Nusantaratv.com-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan komitmennya untuk mempererat kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), sebagai upaya meningkatkan kualitas data nasional, terutama di sektor obat dan makanan.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan kesiapan lembaganya untuk memberikan dukungan penuh terhadap SE2026, khususnya dalam pendataan sektor industri yang menjadi ruang lingkup pengawasan BPOM, seperti obat, pangan olahan, kosmetik, obat tradisional, serta suplemen kesehatan.
"Data industri yang dikelola BPOM memiliki peran penting dalam struktur ekonomi nasional, khususnya pada sektor pangan olahan," ujarnya di Jakarta, Selasa 21 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa ketersediaan data yang lengkap hingga tingkat lapangan akan memperkuat proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pengawasan.
Selain itu, data tersebut juga berperan dalam mendukung pengembangan pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kerja sama antara BPOM dan BPS sebelumnya telah terjalin melalui berbagai kegiatan, seperti penyusunan metodologi survei, pendampingan analisis data, serta pemanfaatan layanan statistik.
Kedua lembaga juga telah menandatangani nota kesepahaman terkait penyediaan dan pengembangan data statistik di bidang pengawasan obat dan makanan.
Melalui kolaborasi ini, BPOM berharap hasil SE2026 dapat dimanfaatkan untuk memetakan pelaku usaha yang belum memiliki nomor izin edar (NIE), sekaligus meningkatkan efektivitas pembinaan dan pengawasan.
Hal senada disampaikan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti yang menilai sinergi dengan BPOM akan memperkaya kualitas data sektoral sebagai bagian penting dari gambaran ekonomi nasional.
Amalia menjelaskan bahwa SE2026 merupakan amanat undang-undang yang memerlukan dukungan lintas sektor, termasuk BPOM.
Ia menilai hasil sensus ini akan memberikan dampak luas dalam penyusunan kebijakan berbasis data oleh pemerintah.
“Hasil sensus ekonomi akan melengkapi basis data ekonomi nasional yang sangat dibutuhkan,” katanya, dikutip dari Antara.
Lebih lanjut, BPS mengadopsi metodologi statistik modern dengan menggabungkan pendekatan konvensional dan pemanfaatan teknologi big data serta data science.
BPS juga berperan sebagai pusat regional Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk big data dan data science di kawasan Asia Pasifik, sekaligus berkomitmen menjadi acuan global dalam pengembangan metodologi statistik berbasis inovasi teknologi.
Kedua lembaga sepakat untuk terus memperkuat koordinasi serta meminimalkan kesenjangan data (data gap), guna memastikan pertukaran informasi berjalan lebih efektif dan efisien.
Langkah ini diharapkan mampu mendukung perlindungan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan industri obat dan makanan di Indonesia.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh