BPS Sebut Produk Industri Pengolahan Jadi Pilar Pertumbuhan Ekspor Nonmigas

BPS Sebut Produk Industri Pengolahan Jadi Pilar Pertumbuhan Ekspor Nonmigas

Nusantaratv.com - 07 Maret 2026

BPS menyebutkan produk industri pengolahan menjadi bantalan ekspor nonmigas tetap tumbuh. (Foto: Badan Pusat Statistik/BPS)
BPS menyebutkan produk industri pengolahan menjadi bantalan ekspor nonmigas tetap tumbuh. (Foto: Badan Pusat Statistik/BPS)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Pada 2 Maret 2026, BPS merilis angka Ekspor Nonmigas Indonesia pada Januari 2026 yang secara tahunan tumbuh sebesar 4,38%. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, pada awal tahun 2026, ekspor industri pengolahan menunjukkan kinerja yang baik, di tengah menurunnya ekspor pertanian/perkebunan dan ekspor pertambangan. 

"Industri pengolahan menjadi bantalan kinerja ekspor Januari 2026 yang tumbuh sebesar 8,19%. Produk industri yang tumbuhnya sangat tinggi antara lain adalah produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semi konduktor, dan kendaraan bermotor. Sementara itu, produk olahan timah mampu tumbuh 191% karena larangan ekspor bijih timah yang berdampak terhadap tumbuhnya ekspor produk olahan timah," ujar Amalia.

Sumber: Badan Pusat Statistik, Mare 2026.

Dia melanjutkan, nilai ekspor industri pengolahan pada Januari 2026 adalah US$18,51 miliar, mengalami kenaikan dari US$ 17,11 miliar pada Januari 2025.

BPS mencatat tujuan utama ekspor nonmigas terbesar Indonesia adalah:  Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan China dengan kontribusi ketiga negara ini mencapai 43,77 persen pada Januari 2026. 

Tiongkok masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai US$5,27 miliar (24,80 persen), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$2,51 miliar (11,82 persen) dan India sebesar US$1,52 miliar (7,15 persen). 

Amalia menyampaikan, total ekspor nonmigas ke Amerika Serikat pada Januari 2026 sebesar US$2,82 miliar atau tumbuh 13,60 persen dibandingkan dengan Januari tahun sebelumnya (y-on-y). 

Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$21,20 miliar, atau naik 18,21 persen dari Januari 2025 (y-on-y). 

Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor sebesar US$18,04 miliar, naik 16,71 persen dibandingkan Januari 2025. 

Impor sektor migas juga meningkat hingga 27,52 persen (y-on-y). Kondisi ini menjadikan nilai impor sektor migas pada Januari 2026 tercatat sebesar US$3,17 miliar.

Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi baik pada bahan baku/penolong, barang modal, serta barang konsumsi. 

Nilai impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor pada Januari 2026 tercatat US$14,88 miliar, naik 14,67 persen dibandingkan Januari 2025. 

Sementara impor barang modal tercatat sebesar US$4,49 miliar, atau naik 35,23 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. 

Peningkatan impor bahan baku/penolong dan barang modal tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi domestik serta investasi pada sektor riil, karena kedua kelompok barang ini umumnya digunakan untuk mendukung proses produksi industri dan ekspansi usaha.

BPS turut melaporkan tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, dan Jepang. 

Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 54,90 persen. Tiongkok masih menjadi negara utama dengan nilai impor US$7,89 miliar (43,71 persen), diikuti oleh Australia sebesar US$1,07 miliar (5,93 persen) dan Jepang sebesar US$0,95 miliar (5,26 persen). 

Impor dari Tiongkok utamanya berupa mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close