Hashim Sebut RI Kecil Hasilkan Emisi Karbon, Tapi Paling Dirugikan akibat Perubahan Iklim

Hashim Sebut RI Kecil Hasilkan Emisi Karbon, Tapi Paling Dirugikan akibat Perubahan Iklim

Nusantaratv.com - 11 Januari 2026

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim yang juga Ketua Dewan Pembina Gekira, Hashim Djojohadikusumo/ist
Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim yang juga Ketua Dewan Pembina Gekira, Hashim Djojohadikusumo/ist

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com- Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim yang juga Ketua Dewan Pembina Gerakan Kristiani Indonesia Raya (Gekira), Hashim Djojohadikusumo, menilai salah satu penyebab bencana di tiga wilayah Pulau Sumatra, karena akibat adanya perubahan iklim.

Perubahan iklim tersebut, menurutnya terjadi gara-gara banyaknya emisi karbon atau pelepasan karbon dioksida ke atmosfer bumi, akibat aktivitas manusia.

Indonesia sendiri, negara dengan penyumbang emisi karbon yang rendah, namun dirasa terkena dampak besar dari perubahan iklim, yaitu bencana hidrometeorologi.

"Ini ada satu fakta yang sebetulnya fakta yang pahit bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia menghasilkan setiap tahun, 3 ton karbon dioksida setiap jiwa. Bangsa China, Tiongkok, menghasilkan 7 ton karbon dioksida setiap jiwa. Bangsa-bangsa negara maju, Amerika, Eropa, Rusia, Jepang menghasilkan rata-rata 13 ton karbon dioksida setiap jiwa setiap tahun," ujar Hashim di sela penanaman 1 juta bibit pohon di Tapanuli Utara, Sumatra Utara (Sumut) yang digelar Gekira, Minggu, 11 Januari 2026.

Walau cuma menghasilkan emisi karbon yang lebih sedikit dibanding negara maju atau negara besar, Indonesia jadi salah satu negara yang merupakan korban atau pihak yang teramat dirugikan akibat perubahan iklim.

"Itu fakta yang sangat menyedihkan. Kita yang menghasilkan sedikit relatif karbon dioksida, emisi karbon yang menyebabkan perubahan iklim. Kita yang menderita akibat kegiatan di negara-negara maju," kata Hashim.

Hashim lantas mengakui, bahwa bencana alam masih akan terus terjadi di Indonesia. Sebab, kata dia, penanganan akibat dari perubahan iklim tak bisa singkat dilakukan. Setidaknya membutuhkan beberapa dasawarsa atau dekade.

Atas kondisi ini, Hashim meminta semua wilayah di Indonesia untuk selalu melakukan antisipasi terhadap bencana.

"Maka apa yang kita harus lakukan adalah persiapan untuk antisipasi bencana-bencana alam yang pasti akan terjadi lagi. Insya Allah tidak akan terjadi lagi di Sumatra Utara. Kita berharap betul. Ini tugas dari Pak Gubernur dan kepala daerah, Bupati untuk persiapan kalau terjadi lagi, bagaimana untuk memiminalisasi, kalau bisa mengurangi sampai nanti dampak negatif itu sedikit mungkin," jelasnya.

Antisipasi bukan hanya dilakukan oleh para kepala daerah yang wilayahnya rawan bencana. Tapi semua kepala daerah di Indonesia. Karena, akibat dari perubahan iklim, wilayah yang tadinya jauh dari bencana hidrometeorologi, kini bisa berpeluang terkena.

"Tapi kepala daerah, bupati dan gubernur di provinsi lain harus sekarang harus antisipasi, harus persiapan. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur juga rentan ya. Hujan itu di seluruh Indonesia. Saya punya dua rumah di Pulau Bali dan saya bersaksi Pak Bobby (Bobby Nasution/Gubernur Sumut), yang saya alami sejak 15 tahun ini itu curah hujan yang luar biasa di Pulau Bali, yang belum terjadi dulu. Hujan, hujan dan hujan lagi dan itu bukan hanya hujan grimis, itu seperti satu sungai jatuh Seperti dialami oleh rakyat Sumatra Utara," papar Hashim.

"Jadi sekarang pembelajaran mungkin Gekira dan Gerindra bisa mengajarkan kepada seluruh 38 provinsi. Sudah harus antisipasi sekarang," tandasnya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close