Perempuan Kini Jadi Pilar Penting Industri Energi, Direktur CNGR Indonesia: Pemberdayaan di Balik Keberlanjutann

Perempuan Kini Jadi Pilar Penting Industri Energi, Direktur CNGR Indonesia: Pemberdayaan di Balik Keberlanjutann

Nusantaratv.com - 12 Mei 2026

Director of External Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika. (Foto: NTVnews)
Director of External Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika. (Foto: NTVnews)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Industri Energi Baru Terbarukan (EBT) bukan sekadar tentang teknologi atau peralihan sumber daya alam semata. Di baliknya, ada sebuah filosofi mendalam tentang kelangsungan hidup manusia dan tanggung jawab antargenerasi. 

Hal ini ditegaskan Magdalena Veronika, Director of External Relations CNGR Indonesia dalam diskusinya di ajang Kartini Leaders Fest 2026 yang dihelat Nusantara TV.

Dalam kesempatan tersebut, Magdalena menyoroti kata kunci utama dari munculnya energi terbarukan adalah keberlanjutan (sustainability).

Menurut Magdalena, keinginan manusia untuk memastikan hidupnya berlanjut hingga ke generasi mendatang adalah alasan kuat mengapa energi terbarukan menjadi prioritas global saat ini.

Namun, untuk mencapai industri yang benar-benar berkelanjutan, diperlukan sinergi antara regulator, pasar, dan pelaku usaha.

"Untuk bisa sustainable, sebuah industri maupun upaya pemberdayaan perempuan sangat erat kaitannya dengan regulator yang menetapkan arah sebuah wilayah. Pasar saat ini membutuhkan produk yang memiliki nilai keberlanjutan karena mereka ingin kehidupan ini terus berlanjut," ujar Magdalena di NT Tower, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Dia menambahkan, produk yang baik bukan hanya dinilai dari kualitas fisiknya, tetapi dari proses pembuatannya yang memperhatikan para pemangku kepentingan, baik di dalam maupun di luar operasional industri.

Salah satu poin krusial yang diangkat Magdalena adalah peran perempuan dalam ekosistem keberlanjutan. Dia memaparkan data yang menunjukkan betapa besarnya potensi perempuan sebagai penggerak perubahan.

"Populasi wanita per tahun 2026 di Indonesia diperkirakan mencapai 49 persen. Di Asia Tenggara, Indonesia menduduki 45 persen populasi kawasan, dan secara global pun angka populasi wanita berada di kisaran 49 persen. Ini adalah potensi besar yang bisa kita manfaatkan melalui pilar sustainability," jelasnya.

Dengan angka tersebut, pemberdayaan masyarakat yang 50 persennya adalah perempuan menjadi syarat mutlak bagi setiap pengusaha di sektor energi jika ingin menerapkan kegiatan usaha yang bertanggung jawab.

Magdalena memberikan gambaran nyata bagaimana industri energi terbarukan bekerja di lapangan. Seringkali, proyek EBT berlokasi di daerah terpencil yang minim infrastruktur dan kegiatan ekonomi.

"Ketika kami datang, biasanya tempat tersebut tidak ada apa-apa, hanya ada semak belukar. Kami datang kepada pemerintah setempat dan menyampaikan rencana pembangunan. Area tersebut tidak hanya akan menjadi tempat mengolah sumber daya alam, tetapi akan menghidupkan puluhan ribu orang di dalamnya," tuturnya.

Kehadiran industri energi di wilayah pelosok ini diyakini akan menciptakan "ranting-ranting" kegiatan ekonomi baru. Di sinilah peran perempuan menjadi sangat vital.

Dengan adanya ekosistem ekonomi yang tumbuh di sekitar proyek industri, peluang bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam berbagai sektor pendukung akan terbuka lebar.

Melalui pandangannya di Kartini Leaders Fest 2026, Magdalena Veronika mengingatkan energi terbarukan bukan hanya soal mengganti fosil dengan matahari atau angin.

Ini adalah tentang membangun peradaban yang memanusiakan manusia, menjaga alam, dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk menjadi bagian dari solusi masa depan.

Keberlanjutan adalah sebuah janji untuk masa depan, dan perempuan adalah salah satu kunci utama untuk menepati janji tersebut.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close